MAKALAH
BAHASA
INDONESIA
RAGAM DAN LARAS BAHASA
Kelompok 2:
Sukron Amin (11711140)
Haris Syafiq (11711135)
Putri Meisa Utami (11711125)
Asma Ainy Pratiwi (11711112)
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
JURUSAN TARBIYAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) PONTIANAK
TAHUN AJARAN 2017/2018
KATA PENGANTAR
Puji
syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya
sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini dengan baik. Shalawat serta salam
selalu kami limpahkan kepada junjungan kami Nabi Muhammad SAW beserta keluarga
dan para sahabatnya, atas jasa beliau kita sebagai ummat islam bisa melihat
dunia ini dipenuhi akhlaq yang mulia, rahmat, dan kasih sayang yang selalu
tumbuh diantara ummatnya.
Ucapan terima
kasih kami berikan kepada Bapak Try Hariadi, M. Pd selaku dosen pengampu mata
kuliah Bahasa Indonesia yang telah membimbing kami, teman-teman kelas PAI-D
yang turut memberi motivasi kami, dan tak lupa kepada semua pihak yang tidak
bisa kami sebutkan satu per satu.
Kami menyusun
makalah yang bertema Ragam dan Laras Bahasa ini dalam rangka supaya pembaca
dapat mengetahui dan memahami pengetahuan tentang Ragam dan Laras Bahasa.
Dunia ini tidak
ada yang sempurna, oleh karena itu kami memohon maaf atas kesalahan yang
terdapat dalam makalah kami. Kami juga mengharap kritik dan saran dari pembaca,
agar kami dapat menjadi lebih baik lagi dan makalah ini bisa lebih sempurna dan
lebih bermanfaat bagi pendidikan kami khususnya dan pembaca umumnya.
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang…………………………………..……………..…………1
B.
Rumusan
Masalah……………………..………………………………….3
C.
Tujuan dan
Manfaat………………………………………………...…….3
BAB II PEMBAHASAN
A.
Hakikat Ragam dan
Laras Bahasa………………..…………………..…..4
B.
Ragam Bahasa
Lisan……………………………………………..……….5
C.
Ragam Bahasa Tulis……………………………..……………………….6
D.
Ragam Baku dan
Tidak Baku……………………..……………………...7
E.
Ragam Sosial dan
Ragam Fungsional……………..……………………...8
F.
Bahasa Indonesia
Yang Baik dan Benar………………..………………...9
BAB III PENUTUP
A.
Simpulan …………………………………...…………….……………..10
B.
Saran…………………………………………………………………….10
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Bahasa
merupakan salah satu alat untuk mengadakan interaksi terhadap manusia yang
lain. Jadi bahasa tersebut tidak dapat dipisahkan dengan manusia. Dengan adanya
bahasa kita kita dapat berhubungan dengan masyarakat lain yang akhirnya
melahirkan komunikasi dalam masyarakat.
Bahasa
Indonesia mempunyai sebuah aturan yang baku dalam pengguanaanya, namun dalam
prakteknya sering terjadi penyimpangan dari aturan yang baku tersebut.
Kata-kata yang menyimpang disebut kata non baku. Hal ini terjadi salah satu
penyebabnya adalah faktor lingkungan. Faktor ini mengakibabkan daerah yang satu
berdialek berbeda dengan dialek di daerah yang lain, walaupun bahasa yang digunakannya
terhadap bahasa Indonesia.
Saat kita
mempergunakan bahasa Indonesia perlu diperhatikan dan kesempatan. Misalnya
kapan kita mempunyai ragam bahasa baku dipakai apabila pada situasi resmi,
ilmiah. Tetapai ragam bahasa non baku dipakai pada situas santai dengan
keluarga, teman, dan di pasar, tulisan pribadi, buku harian. Ragam bahasa non
baku sama dengan bahasa tutur, yaitu bahasa yang dipakai dalam pergaulan
sehari-hari terutama dalam percakapan
Sebagai bahasa
yang hidup, bahasa Indonesia telah dan akan terus mengalami perubahan sejalan
dengan perkembangan masyarakat pemakainya. Luasnya wilayah pemakaian bahasa
Indonesia dan keanekaragaman penuturnya serta cepatnya perkembangan masyarakat
telah mendorong berkembangnya berbagai ragam bahasa Indonesia dewasa ini.
Kenyataan bahwa bahasa Indonesia digunakan oleh kelompok-kelompok masyarakat
penutur yang berbeda latar belakangnya baik dari segi geografis maupun dari
segi sosial menyebabkan munculnya berbagai ragam kedaerahan (ragam regional)
dan sejumlah ragam sosial.
Salah satu
jenis ragam sosial yang bertalian dengan pokok bahasan makalah ini adalah ragam
bahasa Indonesia yang lazim digunakan oleh kelompok yang menganggap dirinya
terpelajar. Ragam ini diperoleh melalui pendidikan formal di sekolah. Karena
itu, ragam ini lazim juga disebut ragam bahasa (Indonesia) sekolah. Ragam ini
juga disebut ragam (bahasa) tinggi. Dalam kaitan ini patut dicatat bahwa bahasa
Melayu yang diikrarkan sebagai bahasa Indonesia pada tanggal 28 Oktober 1928
tentulah ragam bahasa Melayu Tinggi pada waktu itu. Ragam bahasa kaum
terpelajar itu biasanya dianggap sebagai tolok untuk pemakaian bahasa yang
benar. Oleh karena itulah maka ragam bahasa sekolah itu disebut juga (ragam)
bahasa baku (lihat Alwi et al. 1993).
Mengingat ragam
bahasa baku itu digunakan untuk keperluan berbagai bidang kehidupan yang
penting, seperti penyelenggaraan negara dan pemerintahan, penyusunan
undang-undang, persidangan di pengadilan, persidangan di DPR dan MPR, penyiaran
berita melalui media elektronik dan media cetak, pidato di depan umum, dan,
tentu saja, penyelenggaraan pendidikan, maka ragam bahasa baku cenderung
dikaitkan dengan situasi pemakaian yang resmi. Dengan kata lain, penggunaan
ragam baku menuntut penggunaan gaya bahasa yang formal.
Dalam hubungan
dengan gaya itu, perlu dicatat perbedaan ragam bahasa lisan dan ragam bahasa
tulisan. Dari segi gaya, ragam bahasa tulisan cenderung kata-katanya lebih
terpilih dan kalimat-kalimatnya lebih panjang-panjang, tetapi lebih tertata
rapi. Dengan kata lain, persoalan lafal yang menjadi persoalan pokok makalah
ini tidak berkaitan langsung dengan perbedaan ragam bahasa Indonesia lisan dan
ragam bahasa Indonesia tulisan. Lafal bahasa Indonesia yang dipersoalkan dalam
makalah ini adalah lafal (baku) yang dianggap baik untuk digunakan ketika
berbahasa Indonesia baku dengan memakai bunyi sebagai sarananya baik dengan
cara berbicara maupun dengan cara membaca.
B.
Rumusan Masalah
1.
Apa
yang dimaksud dengan ragam bahasa?
2.
Apa
yang dimaksud dengan laras bahasa?
3.
Bagaimana
ciri-ciri ragam bahasa lisan?
4.
Bagaimana
ciri-ciri ragam bahasa tulis?
5.
Apa
yang dimaksud dengan ragam bahasa baku?
6.
Apa
yang dimaksud dengan ragam bahasa tidak baku?
7.
Apa
itu ragam sosial dan ragam fungsional?
8.
Bagaimanakah
bahasa Indonesia yang baik dan benar?
C.
Tujuan dan Manfaat
1.
Mengetahui
apa yang dimaksud dengan ragam bahasa.
2.
Mengetahui
apa yang dimaksud dengan laras bahasa.
3.
Mengetahui
ciri-citri ragam bahasa lisan.
4.
Mengetahui
ciri-ciri ragam bahasa tulis.
5.
Mengetahui
apa yang dimaksud dengan ragam bahasa baku.
6.
Mengetahui
apa yang dimaksud dengan ragam bahasa tidak baku.
7.
Mengetahui
apa itu ragam sosial dan ragam fungsional.
8.
Mengetahui
bahasa Indonesia yang baik dan benar.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Hakikat Ragam dan Laras bahasa
1.
Ragam Bahasa
Ragam
bahasa merupakan varian dari sebuah bahasa menurut pemakaian.
a.
Bias
berbentuk dialeg, aksen, laras, gaya, atau berbagai variasi sosiolinguistik
lain, termasuk bahan baku itu sendiri.
b.
Sering
di anggap juga dengan gaya atau tingkat formlitas tertentu, meskipun penggunan
bahasa kadang juga sebagai suatu ragam tersendiri.
Ragam
bahasa yang kita gunakan adalah untuk
berbicara dengan orang lain itupun berbeda, seperti kita berbicara dengan umur
setara dan umur yang lebih tua, kita menggunakan ragam bahasa bias sedikit
akrab namun sopan ketika kita berbicara pada teman setara kita, namun ketika
kita ingin berbicara dengan umur yan lebih tua, guru, dosen kita menggunakan
ragam bahasa yang sopan dan halus.
2.
Laras bahasa
Merupakan ragam bahasa yang digunakan untuk suatu tujuan atau
konteks sosial tertentu. Banyak sekali laras bahasa yang dapat diidentifikasi
tanpa batasan yang jelas di antara mereka. Definisi dan kategorisasi laras
bahasa pun berbeda antara para ahli linguistik. Ragam dan laras bahasa
merupakan suatu kesatuan dalam kehidupan sehari-hari, jika kita menggunakan
ragam dan laras bahasa yang baik dan benar, maka orang akan mengeri, contoh,
jika kita berbicara dengan orang yang lebuh tua dengan bahasa yang sopan, namun
laras yang digunakan tidak baik, maka tutur bahasanya pun akan berantakan. Jadi
kita harus bias memadukan dengan baik ragam dan laras bahasa yang baik dan
benar.
B.
RAGAM BAHASA LISAN DAN TULIS
1.
Ragam Bahasa Lisan
Ragam bahasa
lisan merupakan ragam bahasa yang diungkapkan melalui media lisan, terkait oleh
ruang dan waktu sehingga situasi pengungkapan dapat membantu pemahaman. Bahasa
lisan lebih ekspresif di mana mimik, intonasi, dan gerakan tubuh dapat
bercampur menjadi satu untuk mendukung komunikasi yang dilakukan.
a.
Ciri-Ciri
Ragam Bahasa Lisan :
1)
Langsung
Dalam
berkomunikasi, seseorang diharapkan dapat bertemu langsung dengan orang yang
diajak bicara.
2)
Tidak terikat ejaan bahasa Indonesia tetapi
terikat situasi pembicaraan
Dalam
berkomunikasi, seseorang diharapakan dapat mengetahui situasi dan kondisi dan
menggunakan bahasa sehari-hari dengan orang yang diajak bicara.
3)
Tidak efektif
Dalam
berkomunikasi, seseorang terkadang menggunakan bahasa sehari-hari sehingga
banyak menggunakan kalimat yang bersifat basa-basi dengan orang yang diajak
bicara.
4)
Kalimatnya pendek-pendek
Dalam
berkomunikasi, seseorang terkadang menggunakan bahasa yang menurut orang lain
sudah mengetahui maksudnya.
5)
Kalimat sering terputus dan tidak lengkap
Dalam
berkomunikasi, seseorang terkadang menggunakan bahasa yang menurut orang lain
sudah mengetahui maksudnya.
6)
Lagu kalimat situasional
Dalam
berkomunikasi, seseorang terkadang harus mengerti situasi yang ada pada dengan
orang yang diajak bicara atau keadaan sekitarnya.
2.
RAGAM BAHASA TULIS
Ragam bahasa
tulis merupakan ragam bahasa yang pemakaiannya melalui media tulis, tidak
terkait ruang dan waktu sehingga diperlukan kelengkapan struktur agar dapat
dipahami dengan mudah dan benar. Ragam bahasa tulis memiliki kaidah yang baku
dan teratur seperti tata cara penulisan (ejaan), tata bahasa, kosa kata,
kalimat dan lain-lain. Dapat dikatakan ragam bahasa tulis menuntut adanya
adanya kelengkapan unsur tata bahasa seperti bentuk kata ataupun susunan
kalimat, ketepatan pilihan kata, kebenaran penggunaan ejaan, dan penggunaan
tanda baca.
a.
Ciri-Ciri
Ragam Bahasa Tulis :
1)
Efektif
Hemat dan singkat, tetapi kena dalam hal maksud yang
diungkapkannya.
2)
Bahasa
disampaikan sebagai upaya komunikasi satu pihak.
Karena tak dapat bertemu langsung, maka kita diharapkan dapat
mengkomunikasikan segala apa yang ada dengan harapkan orang yang menerima surat
tidak salah persepsi atau salah paham.
3)
Ejaan
digunakan sesuai dengan pedoman
Dalam penyampaian bahasa tulis, memang ada pedoman yang harus
digunakan atau dipatuhi agar tidak menimbulkkan kesalahan dalam pemakaian atau
penulisan kata.
4)
Penggunaan
kosa kata pada dasarnya sudah dibakukan
Dalam hal ini, penggunaan kata atau pilihan kata harus tepat.
Walaupun maksud kita sama, namun apabila kita salah dalam memilih kata maka
akan menimbulkan kerancuan.
5)
Memenuhi
kaidah-kaidah yang ada dan pilihan kata atau istilah yang tepat dan cermat.
C.
RAGAM BAKU DAN RAGAM TIDAK BAKU
Pada dasarnya, ragam tulis dan ragam lisan terdiri pula atas ragam
baku dan ragam tidak baku.
Ragam
baku adalah ragam yang dilembagakan dan diakui oleh sebagian besar warga
masyarakat pemakaiannya sebagai bahasa resmi dan sebagai kerangka rujukan norma
bahasa dalam penggunaan, ragam tidak adalah ragam yang tidak dilembagakan dan
ditandai oleh ciri-ciri yang menyimpang dari norma ragam baku,
Ragam baku itu mempunyai sifat-sifat sebagai berikut;
1.
Mantap
Mantap artinya sesuai dengan kaidah
bahasa, kalau kata rasa dibubuhi awalan pe-, akan terbentuk kata perasa,
kata raba dibubuhi pe-, akan terbentuk kata peraba, oleh karena itu,
menurut kemantapan bahasa, kata rajin dibubuhi pe-, akan menjadi
perajin, bukan pengrajin, kalau kita berpegang pada sifat mantap, kata
pengrajin tidak dapat kita terima, bentuk-bentuk lepas lepas pantai, dan landas
merupakan contoh kemantapan kaidah bahasa baku.
2.
Dinamis
Dinamis artinya tidak statis, tidak
kaku, bahasa baku tidak menghendaki adanya bentuk mati, kata langganan
mempunyai makna ganda, yaitu orang yang berlangganan dan tokoh tempat
berlangganan dalam hal ini, tokohnya disebut langganan dan orang yang
berlangganan disebut pelanggan.
3.
Cendekia
Ragam baku bersifata cendekia karena
ragam baku dipakai pada tempat-tempat resmi, pewujud ragam baku ini adalah
orang-orang terpelajar hal ini dimungkinkan oleh pembinaan dan pengembangan
bahasa yang lebih banyak melalui jalur pendidikan formal (sekolah).
Di samping itu
ragam baku dapat dengan tepat memberikan gambaran apa yang ada dalam otak
pembicara atau penulis, selanjutnya, ragam baku dapat memberikan gambaran yang
jelas dalam otak pendengar atau pembaca contoh kalimat yang tidak cendekia
adalah sebagai berikut;
Rumah sang jutawan yang aneh akan dijual
Frasa rumah sang jutawan yang aneh mangandung konsep ganda, yaitu
rumahnya yang aneh atau sang jutawan yang aneh dengan demikian, kalimat itu
tidak memberikan informasi yang jelas, agar menjadi cendekia kalimat tersebut
harus diperbaiki sebagai berikut,
1)
Rumah
aneh milik sang jutawan akan dijual
2)
Rumah
milik sang jutawan aneh akan dijual
4.
Seragam
Ragam baku bersifat seragam, pada
hakikatnya, proses pembakuan bahasa ialah proses penyeragaman bahasa, dengan
kata lain, pembakuan bahasa adalah pencarian titik-titik keseragaman, pelayan
kapal terbang dianjurkan untuk memakai istilah pramugara dan pramugari, andai
kata ada orang yang mengusulkan bahwa pelayan kapal terbang disebut stewardes
atau stewardes dan penyerapan itu seragam, kata itu menjadi ragam baku,
akan tetapi, kata steward dan stewardes sampai dengan saat ini
tidak disepakati untuk dipakai, yang timbul dalam masyarakat ialah pramugara
atau pramugari.
D.
Ragam Sosial dan Ragam Fungsional
Baik ragam lisa maupun ragam tulis bahasa Indonesia ditandai pula
oleh adanya ragam sosial, yaitu ragam bahasa yang sebagian norma dan
kaidahnya didasarkan atas kesepakatan bersama dalam lingkungan sosial yang
lebih kecil dalam masyarakat. Ragam bahasa yang digunakan dalam keluarga atau
persahabatan dua orang yang akrab dapat merupakan ragam sosial tersendiri.
Selain itu, ragam sosial tidak jarang dihubungkan dengan tinggi atau rendahnya
status kemasyarakatan lingkungan sosial yang bersangkutan. Dalam hal ini, ragam
baku nasional dapat pula berfungsi sebagai ragam sosial yang tinggi, sedangkan
ragam baku daerah atau ragam sosial yang lain merupakan ragam sosial dengan
nilai kemasyarakatan yang rendah.
Ragam fungsional, yang kadang-kadang disebut juga raga
professional, adalah ragam bahasa yang dikaitkan dengan profesi, lembaga,
lingkungan kerja, atau kegiatan tertentu lainnya. Ragam fungsional juga
dikaitkan dengan keresmian keadaan penggunaannya. Dalam kenyataan, ragam
fungsional menjelma sebagai bahasa Negara dan bahasa teknis keprofesian,
seperti bahasa dalam lingkungan keilmuan/teknologi, kedokteran, dan keagamaan,
perhatikan contoh-contoh berikut.
E.
Ragam Bahasa Indonesia Yang Baik Dan Benar
Pengertian benar pada suatu kata atau kalimat adalah pandangan yang
diarahkan dari segi kaidah bahasa. Sebuah kalimat atau sebuah pembentukkan kata
dianggap benar apabila memenuhi kaidah yang berlaku. Contohnya : “kuda makan
rumput” (SPOK).
Sebuah
bentuk kata dikatakan benar jika memperlihatkan proses pembentukkan yang benar
menurut kaidah yang berlaku.
BAB III
PENUTUP
A.
Simpulan
Ragam bahasa yang kita gunakan adalah untuk berbicara dengan orang lain, dengan
menggunakan ragama bahasa yang sopan, halus dan mudah dimegerti. Laras bahasa merupakan intonasi ketika
berbicara, contoh: ketika kita berbicara dengan orang lebih tua, maka harus
menggunakan laras bahasa yang halus dan lembut. Ragam bahasa lisan merupakan
ragam bahasa yang diungkapkan melalui media lisan, terkait oleh ruang dan
waktu, sehingga situasi pengungkapan dapat membantu pemahaman. Ragam bahasa
lisan merupakan ragam bahasa yang pemakaiannya melalui media tulis bila terkait
ruang dan waktu, sehingga diperlukan kelengkapan struktur.
B.
Saran
Sebagai mahasiswa atau penerus bangsa kita harus bisa berbahasa
Indonesia yang baik dan benar, karena jika suatu saat kita berkumpul dengan
orang yang lebih tua maka yang dinilai pertama adalah tata cara kita
berkomunikasi dengan orang yang lebih tua, baik itu guru ataupun orang tua.
Masih banyak di luar sana remaja-remaja yang bahasanya tidak beraturan seperti
apa yang dijelaskan di atas maka dari itu marilah kita lestarikan Berbahasa
Indonesia Yang Baik dan Benar. Karena hal tersebut sangat penting kita pelajari
baik di kalangan masyarakat maupun kalangan keluarga.
DAFTAR PUSTAKA
Arifin, Zaenal, dan Amran Tasai.
2019.Cermat Berbahasa Indonesia Untuk Perguruan Tinggi.Jakarta:
Akademika Pressindo.
Finoza,Lamudin.2007.Komposisi
Bahasa Indonesia Untuk Mahasiswa.Jakarta:Diksi Insan Mulia
Husain, Abdul Rajak. 1993.Bahasa
Indonesia Baku.Solo: C.V Aneka.
Mansurudin,Susilo.2010.Mozaik
Bahasa Indonesia.Malang:UIN-Maliki Press

Tidak ada komentar:
Posting Komentar