Sabtu, 19 Januari 2019

MAKALAH
BAHASA INDONESIA

RAGAM DAN LARAS BAHASA
DOSEN PENGAMPU : Try Hariadi, M. Pd.

Kelompok 2:
Sukron Amin                         (11711140)
Haris Syafiq                           (11711135)
Putri Meisa Utami                 (11711125)
Asma Ainy Pratiwi                (11711112)



PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM JURUSAN TARBIYAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) PONTIANAK
TAHUN AJARAN 2017/2018

KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini dengan baik. Shalawat serta salam selalu kami limpahkan kepada junjungan kami Nabi Muhammad SAW beserta keluarga dan para sahabatnya, atas jasa beliau kita sebagai ummat islam bisa melihat dunia ini dipenuhi akhlaq yang mulia, rahmat, dan kasih sayang yang selalu tumbuh diantara ummatnya.
Ucapan terima kasih kami berikan kepada Bapak Try Hariadi, M. Pd selaku dosen pengampu mata kuliah Bahasa Indonesia yang telah membimbing kami, teman-teman kelas PAI-D yang turut memberi motivasi kami, dan tak lupa kepada semua pihak yang tidak bisa kami sebutkan satu per satu.
Kami menyusun makalah yang bertema Ragam dan Laras Bahasa ini dalam rangka supaya pembaca dapat mengetahui dan memahami pengetahuan tentang Ragam dan Laras Bahasa.
Dunia ini tidak ada yang sempurna, oleh karena itu kami memohon maaf atas kesalahan yang terdapat dalam makalah kami. Kami juga mengharap kritik dan saran dari pembaca, agar kami dapat menjadi lebih baik lagi dan makalah ini bisa lebih sempurna dan lebih bermanfaat bagi pendidikan kami khususnya dan pembaca umumnya.







DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang…………………………………..……………..…………1
B.     Rumusan Masalah……………………..………………………………….3
C.     Tujuan dan Manfaat………………………………………………...…….3
BAB II PEMBAHASAN
A.    Hakikat Ragam dan Laras Bahasa………………..…………………..…..4
B.     Ragam Bahasa Lisan……………………………………………..……….5
C.     Ragam Bahasa Tulis……………………………..……………………….6
D.    Ragam Baku dan Tidak Baku……………………..……………………...7
E.     Ragam Sosial dan Ragam Fungsional……………..……………………...8
F.      Bahasa Indonesia Yang Baik dan Benar………………..………………...9  
BAB III PENUTUP
A.    Simpulan …………………………………...…………….……………..10
B.     Saran…………………………………………………………………….10
DAFTAR PUSTAKA





 BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Bahasa merupakan salah satu alat untuk mengadakan interaksi terhadap manusia yang lain. Jadi bahasa tersebut tidak dapat dipisahkan dengan manusia. Dengan adanya bahasa kita kita dapat berhubungan dengan masyarakat lain yang akhirnya melahirkan komunikasi dalam masyarakat.
Bahasa Indonesia mempunyai sebuah aturan yang baku dalam pengguanaanya, namun dalam prakteknya sering terjadi penyimpangan dari aturan yang baku tersebut. Kata-kata yang menyimpang disebut kata non baku. Hal ini terjadi salah satu penyebabnya adalah faktor lingkungan. Faktor ini mengakibabkan daerah yang satu berdialek berbeda dengan dialek di daerah yang lain, walaupun bahasa yang digunakannya terhadap bahasa Indonesia.
Saat kita mempergunakan bahasa Indonesia perlu diperhatikan dan kesempatan. Misalnya kapan kita mempunyai ragam bahasa baku dipakai apabila pada situasi resmi, ilmiah. Tetapai ragam bahasa non baku dipakai pada situas santai dengan keluarga, teman, dan di pasar, tulisan pribadi, buku harian. Ragam bahasa non baku sama dengan bahasa tutur, yaitu bahasa yang dipakai dalam pergaulan sehari-hari terutama dalam percakapan
Sebagai bahasa yang hidup, bahasa Indonesia telah dan akan terus mengalami perubahan sejalan dengan perkembangan masyarakat pemakainya. Luasnya wilayah pemakaian bahasa Indonesia dan keanekaragaman penuturnya serta cepatnya perkembangan masyarakat telah mendorong berkembangnya berbagai ragam bahasa Indonesia dewasa ini. Kenyataan bahwa bahasa Indonesia digunakan oleh kelompok-kelompok masyarakat penutur yang berbeda latar belakangnya baik dari segi geografis maupun dari segi sosial menyebabkan munculnya berbagai ragam kedaerahan (ragam regional) dan sejumlah ragam sosial.
Salah satu jenis ragam sosial yang bertalian dengan pokok bahasan makalah ini adalah ragam bahasa Indonesia yang lazim digunakan oleh kelompok yang menganggap dirinya terpelajar. Ragam ini diperoleh melalui pendidikan formal di sekolah. Karena itu, ragam ini lazim juga disebut ragam bahasa (Indonesia) sekolah. Ragam ini juga disebut ragam (bahasa) tinggi. Dalam kaitan ini patut dicatat bahwa bahasa Melayu yang diikrarkan sebagai bahasa Indonesia pada tanggal 28 Oktober 1928 tentulah ragam bahasa Melayu Tinggi pada waktu itu. Ragam bahasa kaum terpelajar itu biasanya dianggap sebagai tolok untuk pemakaian bahasa yang benar. Oleh karena itulah maka ragam bahasa sekolah itu disebut juga (ragam) bahasa baku (lihat Alwi et al. 1993).
Mengingat ragam bahasa baku itu digunakan untuk keperluan berbagai bidang kehidupan yang penting, seperti penyelenggaraan negara dan pemerintahan, penyusunan undang-undang, persidangan di pengadilan, persidangan di DPR dan MPR, penyiaran berita melalui media elektronik dan media cetak, pidato di depan umum, dan, tentu saja, penyelenggaraan pendidikan, maka ragam bahasa baku cenderung dikaitkan dengan situasi pemakaian yang resmi. Dengan kata lain, penggunaan ragam baku menuntut penggunaan gaya bahasa yang formal.
Dalam hubungan dengan gaya itu, perlu dicatat perbedaan ragam bahasa lisan dan ragam bahasa tulisan. Dari segi gaya, ragam bahasa tulisan cenderung kata-katanya lebih terpilih dan kalimat-kalimatnya lebih panjang-panjang, tetapi lebih tertata rapi. Dengan kata lain, persoalan lafal yang menjadi persoalan pokok makalah ini tidak berkaitan langsung dengan perbedaan ragam bahasa Indonesia lisan dan ragam bahasa Indonesia tulisan. Lafal bahasa Indonesia yang dipersoalkan dalam makalah ini adalah lafal (baku) yang dianggap baik untuk digunakan ketika berbahasa Indonesia baku dengan memakai bunyi sebagai sarananya baik dengan cara berbicara maupun dengan cara membaca.



B.     Rumusan Masalah
1.      Apa yang dimaksud dengan ragam bahasa?
2.      Apa yang dimaksud dengan laras bahasa?
3.      Bagaimana ciri-ciri ragam bahasa lisan?
4.      Bagaimana ciri-ciri ragam bahasa tulis?
5.      Apa yang dimaksud dengan ragam bahasa baku?
6.      Apa yang dimaksud dengan ragam bahasa tidak baku?
7.      Apa itu ragam sosial dan ragam fungsional?
8.      Bagaimanakah bahasa Indonesia yang baik dan benar?

C.    Tujuan dan Manfaat
1.      Mengetahui apa yang dimaksud dengan ragam bahasa.
2.      Mengetahui apa yang dimaksud dengan laras bahasa.
3.      Mengetahui ciri-citri ragam bahasa lisan.
4.      Mengetahui ciri-ciri ragam bahasa tulis.
5.      Mengetahui apa yang dimaksud dengan ragam bahasa baku.
6.      Mengetahui apa yang dimaksud dengan ragam bahasa tidak baku.
7.      Mengetahui apa itu ragam sosial dan ragam fungsional.
8.      Mengetahui bahasa Indonesia yang baik dan benar.









BAB II
PEMBAHASAN
A.          Hakikat Ragam dan Laras bahasa
1.      Ragam Bahasa
Ragam bahasa merupakan varian dari sebuah bahasa menurut pemakaian.
a.       Bias berbentuk dialeg, aksen, laras, gaya, atau berbagai variasi sosiolinguistik lain, termasuk bahan baku itu sendiri.
b.      Sering di anggap juga dengan gaya atau tingkat formlitas tertentu, meskipun penggunan bahasa kadang juga sebagai suatu ragam tersendiri.
         Ragam bahasa yang kita gunakan adalah  untuk berbicara dengan orang lain itupun berbeda, seperti kita berbicara dengan umur setara dan umur yang lebih tua, kita menggunakan ragam bahasa bias sedikit akrab namun sopan ketika kita berbicara pada teman setara kita, namun ketika kita ingin berbicara dengan umur yan lebih tua, guru, dosen kita menggunakan ragam bahasa yang sopan dan halus.
2.      Laras bahasa
Merupakan ragam bahasa yang digunakan untuk suatu tujuan atau konteks sosial tertentu. Banyak sekali laras bahasa yang dapat diidentifikasi tanpa batasan yang jelas di antara mereka. Definisi dan kategorisasi laras bahasa pun berbeda antara para ahli linguistik. Ragam dan laras bahasa merupakan suatu kesatuan dalam kehidupan sehari-hari, jika kita menggunakan ragam dan laras bahasa yang baik dan benar, maka orang akan mengeri, contoh, jika kita berbicara dengan orang yang lebuh tua dengan bahasa yang sopan, namun laras yang digunakan tidak baik, maka tutur bahasanya pun akan berantakan. Jadi kita harus bias memadukan dengan baik ragam dan laras bahasa yang baik dan benar.





B.           RAGAM BAHASA LISAN DAN TULIS
1.      Ragam Bahasa Lisan
Ragam bahasa lisan merupakan ragam bahasa yang diungkapkan melalui media lisan, terkait oleh ruang dan waktu sehingga situasi pengungkapan dapat membantu pemahaman. Bahasa lisan lebih ekspresif di mana mimik, intonasi, dan gerakan tubuh dapat bercampur menjadi satu untuk mendukung komunikasi yang dilakukan.
a.       Ciri-Ciri Ragam Bahasa Lisan :
1)    Langsung
Dalam berkomunikasi, seseorang diharapkan dapat bertemu langsung dengan orang yang diajak bicara.

2)    Tidak terikat ejaan bahasa Indonesia tetapi terikat situasi pembicaraan
Dalam berkomunikasi, seseorang diharapakan dapat mengetahui situasi dan kondisi dan menggunakan bahasa sehari-hari dengan orang yang diajak bicara.

3)    Tidak efektif
Dalam berkomunikasi, seseorang terkadang menggunakan bahasa sehari-hari sehingga banyak menggunakan kalimat yang bersifat basa-basi dengan orang yang diajak bicara.

4)    Kalimatnya pendek-pendek
Dalam berkomunikasi, seseorang terkadang menggunakan bahasa yang menurut orang lain sudah mengetahui maksudnya.

5)    Kalimat sering terputus dan tidak lengkap
Dalam berkomunikasi, seseorang terkadang menggunakan bahasa yang menurut orang lain sudah mengetahui maksudnya.

6)    Lagu kalimat situasional
Dalam berkomunikasi, seseorang terkadang harus mengerti situasi yang ada pada dengan orang yang diajak bicara atau keadaan sekitarnya.



2.      RAGAM BAHASA TULIS
Ragam bahasa tulis merupakan ragam bahasa yang pemakaiannya melalui media tulis, tidak terkait ruang dan waktu sehingga diperlukan kelengkapan struktur agar dapat dipahami dengan mudah dan benar. Ragam bahasa tulis memiliki kaidah yang baku dan teratur seperti tata cara penulisan (ejaan), tata bahasa, kosa kata, kalimat dan lain-lain. Dapat dikatakan ragam bahasa tulis menuntut adanya adanya kelengkapan unsur tata bahasa seperti bentuk kata ataupun susunan kalimat, ketepatan pilihan kata, kebenaran penggunaan ejaan, dan penggunaan tanda baca.
a.       Ciri-Ciri Ragam Bahasa Tulis :

1)   Efektif
Hemat dan singkat, tetapi kena dalam hal maksud yang diungkapkannya.

2)   Bahasa disampaikan sebagai upaya komunikasi satu pihak.
Karena tak dapat bertemu langsung, maka kita diharapkan dapat mengkomunikasikan segala apa yang ada dengan harapkan orang yang menerima surat tidak salah persepsi atau salah paham.

3)   Ejaan digunakan sesuai dengan pedoman
Dalam penyampaian bahasa tulis, memang ada pedoman yang harus digunakan atau dipatuhi agar tidak menimbulkkan kesalahan dalam pemakaian atau penulisan kata.

4)   Penggunaan kosa kata pada dasarnya sudah dibakukan
Dalam hal ini, penggunaan kata atau pilihan kata harus tepat. Walaupun maksud kita sama, namun apabila kita salah dalam memilih kata maka akan menimbulkan kerancuan.
5)   Memenuhi kaidah-kaidah yang ada dan pilihan kata atau istilah yang tepat dan cermat.



C.       RAGAM BAKU DAN RAGAM TIDAK BAKU
Pada dasarnya, ragam tulis dan ragam lisan terdiri pula atas ragam baku dan ragam tidak baku.

Ragam baku adalah ragam yang dilembagakan dan diakui oleh sebagian besar warga masyarakat pemakaiannya sebagai bahasa resmi dan sebagai kerangka rujukan norma bahasa dalam penggunaan, ragam tidak adalah ragam yang tidak dilembagakan dan ditandai oleh ciri-ciri yang menyimpang dari norma ragam baku,
Ragam baku itu mempunyai sifat-sifat sebagai berikut;
1.      Mantap
Mantap artinya sesuai dengan kaidah bahasa, kalau kata rasa dibubuhi awalan pe-, akan terbentuk kata perasa, kata raba dibubuhi pe-, akan terbentuk kata peraba, oleh karena itu, menurut kemantapan bahasa, kata rajin dibubuhi pe-, akan menjadi perajin, bukan pengrajin, kalau kita berpegang pada sifat mantap, kata pengrajin tidak dapat kita terima, bentuk-bentuk lepas lepas pantai, dan landas merupakan contoh kemantapan kaidah bahasa baku.
2.      Dinamis
Dinamis artinya tidak statis, tidak kaku, bahasa baku tidak menghendaki adanya bentuk mati, kata langganan mempunyai makna ganda, yaitu orang yang berlangganan dan tokoh tempat berlangganan dalam hal ini, tokohnya disebut langganan dan orang yang berlangganan disebut pelanggan.

3.      Cendekia
Ragam baku bersifata cendekia karena ragam baku dipakai pada tempat-tempat resmi, pewujud ragam baku ini adalah orang-orang terpelajar hal ini dimungkinkan oleh pembinaan dan pengembangan bahasa yang lebih banyak melalui jalur pendidikan formal (sekolah).
            Di samping itu ragam baku dapat dengan tepat memberikan gambaran apa yang ada dalam otak pembicara atau penulis, selanjutnya, ragam baku dapat memberikan gambaran yang jelas dalam otak pendengar atau pembaca contoh kalimat yang tidak cendekia adalah sebagai berikut;
Rumah sang jutawan yang aneh akan dijual
Frasa rumah sang jutawan yang aneh mangandung konsep ganda, yaitu rumahnya yang aneh atau sang jutawan yang aneh dengan demikian, kalimat itu tidak memberikan informasi yang jelas, agar menjadi cendekia kalimat tersebut harus diperbaiki sebagai berikut,
1)      Rumah aneh milik sang jutawan akan dijual
2)      Rumah milik sang jutawan aneh akan dijual
4.      Seragam
Ragam baku bersifat seragam, pada hakikatnya, proses pembakuan bahasa ialah proses penyeragaman bahasa, dengan kata lain, pembakuan bahasa adalah pencarian titik-titik keseragaman, pelayan kapal terbang dianjurkan untuk memakai istilah pramugara dan pramugari, andai kata ada orang yang mengusulkan bahwa pelayan kapal terbang disebut stewardes atau stewardes dan penyerapan itu seragam, kata itu menjadi ragam baku, akan tetapi, kata steward dan stewardes sampai dengan saat ini tidak disepakati untuk dipakai, yang timbul dalam masyarakat ialah pramugara atau pramugari.

D.       Ragam Sosial dan Ragam Fungsional
Baik ragam lisa maupun ragam tulis bahasa Indonesia ditandai pula oleh adanya ragam sosial, yaitu ragam bahasa yang sebagian norma dan kaidahnya didasarkan atas kesepakatan bersama dalam lingkungan sosial yang lebih kecil dalam masyarakat. Ragam bahasa yang digunakan dalam keluarga atau persahabatan dua orang yang akrab dapat merupakan ragam sosial tersendiri. Selain itu, ragam sosial tidak jarang dihubungkan dengan tinggi atau rendahnya status kemasyarakatan lingkungan sosial yang bersangkutan. Dalam hal ini, ragam baku nasional dapat pula berfungsi sebagai ragam sosial yang tinggi, sedangkan ragam baku daerah atau ragam sosial yang lain merupakan ragam sosial dengan nilai kemasyarakatan yang rendah.
Ragam fungsional, yang kadang-kadang disebut juga raga professional, adalah ragam bahasa yang dikaitkan dengan profesi, lembaga, lingkungan kerja, atau kegiatan tertentu lainnya. Ragam fungsional juga dikaitkan dengan keresmian keadaan penggunaannya. Dalam kenyataan, ragam fungsional menjelma sebagai bahasa Negara dan bahasa teknis keprofesian, seperti bahasa dalam lingkungan keilmuan/teknologi, kedokteran, dan keagamaan, perhatikan contoh-contoh berikut.

E.        Ragam Bahasa Indonesia Yang Baik Dan Benar
Pengertian benar pada suatu kata atau kalimat adalah pandangan yang diarahkan dari segi kaidah bahasa. Sebuah kalimat atau sebuah pembentukkan kata dianggap benar apabila memenuhi kaidah yang berlaku. Contohnya : “kuda makan rumput” (SPOK).
Sebuah bentuk kata dikatakan benar jika memperlihatkan proses pembentukkan yang benar menurut kaidah yang berlaku.














BAB III
PENUTUP
A.       Simpulan
     Ragam bahasa yang kita gunakan adalah  untuk berbicara dengan orang lain, dengan menggunakan ragama bahasa yang sopan, halus dan mudah dimegerti.  Laras bahasa merupakan intonasi ketika berbicara, contoh: ketika kita berbicara dengan orang lebih tua, maka harus menggunakan laras bahasa yang halus dan lembut. Ragam bahasa lisan merupakan ragam bahasa yang diungkapkan melalui media lisan, terkait oleh ruang dan waktu, sehingga situasi pengungkapan dapat membantu pemahaman. Ragam bahasa lisan merupakan ragam bahasa yang pemakaiannya melalui media tulis bila terkait ruang dan waktu, sehingga diperlukan kelengkapan struktur.

B.        Saran
     Sebagai mahasiswa atau penerus bangsa kita harus bisa berbahasa Indonesia yang baik dan benar, karena jika suatu saat kita berkumpul dengan orang yang lebih tua maka yang dinilai pertama adalah tata cara kita berkomunikasi dengan orang yang lebih tua, baik itu guru ataupun orang tua. Masih banyak di luar sana remaja-remaja yang bahasanya tidak beraturan seperti apa yang dijelaskan di atas maka dari itu marilah kita lestarikan Berbahasa Indonesia Yang Baik dan Benar. Karena hal tersebut sangat penting kita pelajari baik di kalangan masyarakat maupun kalangan keluarga.  






      

DAFTAR PUSTAKA
            Arifin, Zaenal, dan Amran Tasai. 2019.Cermat Berbahasa Indonesia Untuk Perguruan Tinggi.Jakarta: Akademika Pressindo.
            Finoza,Lamudin.2007.Komposisi Bahasa Indonesia Untuk Mahasiswa.Jakarta:Diksi Insan Mulia
            Husain, Abdul Rajak. 1993.Bahasa Indonesia Baku.Solo: C.V Aneka.
            Mansurudin,Susilo.2010.Mozaik Bahasa Indonesia.Malang:UIN-Maliki Press

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PROPOSAL DAN BEBERAPA PENDAPATNYA

NAMA : Sukron Amin NIM : 11711140 1. JUDUL SKRIPSI PROPOSAL PENELITIAN KAJIAN TENTANG FUNGSI MEMBACA AL-QUR’AN SEBAGAI PEMBANGUN...